081-330-646464 cs@arsitekhijau.com

Momentum adalah hasil kali antara masa dengan kecepatan yang menunjukkan tingkat kesukaran benda yang bergerak untuk di hentikkan atau tingkat kerusakan yang di timbulkan dari benda yang memiliki masa dan kecepatan.
Gempa bumi adalah sebuah fenomena getaran yang di kaitkan dengan kejutan yang terjadi pada kerak bumi. Beban kejut ini di sebabkan oleh banyak hal, misalnya benturan pergesekan kerak bumi yang mempengaruhi permukaan bumi.
Lokasi gempa di sebut sebagai fault zones. Kejutan berkaitan dengan benturan tersebut akan menjelma menjadi gelombang yang sifatnya menjalar. Pada saat bangunan bergetar maka timbul gaya – gaya pada struktur bangunan karena adanya kecenderungan massa bangunan untuk mempertahankan dirinya dari gerakan. Gaya yang timbul ini di sebut dengan gaya inersia.
Prinsip dasar bangunan tahan gempa

• Dalam membangun rumah tahan gempa, perlu menerapkan perencanaan denah, pondasi, dan struktur bangunan. Adapun prinsip – prinsip bangunan tahan gempa adalah sebagai berikut ini.
• Perencanaan gedung tanggap gempa tentu saja harus sederhana dan kompak. Struktur bangunan tahan gempa harus dapat menerima beban dan bagian bangunan yang tidak menerima beban harus di anggap sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi.
• Bangunan tahan gempa harus memiliki volume yang ringan. Makin berat bangunan maka makin besar daya massa jika terjadi gempa bumi. Makin tinggi gedung yang di bangun, maka harus semakin ringan. Konstruksi atap yang berat dapat membahayakan struktur yang berada di bawahnya.

• Struktur bangunan tahan gempa yang di rencanakan haruslah sesederhana mungkin, sehingga jalur gaya vertikal maupun horizontal dapat di mengerti dengan sangat mudah. Struktur yang sederhana akan membuat bangunan tahan pada kondisi gempa yang keras.

• Denah bangunan tahan gempa sebaiknya adalah simetris dengan bentuk segi empat atau lingkaran.
• Struktur vertikal harus di tempatkan sedemikian rupa sehingga dapat menerima beban vertikal paling besar. Makin besar gaya vertikal maka makin tahan terhadap gaya gempa ( seismik horizontal ) dan momentum putiran.
• Tinggi bangunan tahan gempa sebaiknya tidak melebihi empat kali lebar bangunan.
• Struktur bangunan sebaiknya bersifat monolit, berarti seluruh struktur bangunan di konstruksikan dengan bahan bangunan yang sama karena pada saat gempa terjadi bahan bangunan akan berbeda saat menerima reaksi dari gempa.
• Ketebalan plat dan ketinggian dinding balok sebaiknya lebih besar dari biasanya sehingga dapat menghindari getaran vertikal sejauh mungkin. Balok tidak boleh di buat dengan lebih lebar dari tiang yang ada pada tumpuan agar tidak terjadi hambatan.
• Ringbalk horizontal pada setiap tingkatan dengan batang tarik diagonal dapat meningkatkan kestabilan gedung.
• Pondasi yang di miliki haruslah yang sederhana dan sekuat mungkin tidak akan patah pada saat gempa bumi. Sebaiknya anda memilih pelat lantai beton bertulang atau pondasi lajur kali dengan sloof beton bertulang.

• Reaksi bangunan pada saat gempa terjadi bergantung pada cara pembangunan dan bukan pada tahap perencanaan. Maka sangatlah penting bagi anda untuk memanajemen pembangunan rumah tahan gempa dan menjamin setiap bahan bangunan yang di pakai adalah berkualitas baik.
• Pondasi menggunakan sistem pondasi batu kali menerus, di mana hubungan antara sloof dengan pondasi di pergunakan angker setiap 0,5 meter hal ini di maksudkan supaya ada keterikatan antara pondasi dengan sloof, sehingga pada saat terjadinya gempa ikatan antara pondasi dengan sloof tidak lepas.
• Dinding yang di pakai merupakan perpaduan antara kebiasaan masyarakat setempat yang menggunakan material kayu dan dinding yang terbuat dari batu – bata. Untuk menyatukan dinding dengan kolom maupun sloof, di pergunakan angker yang di pasang pada jarak 0,3 meter. Untuk mengatasi adanya gaya horizontal akibat gempa, maka pada dinding di pasang pengikat silang sebagai pengaku. Setiap bukaan yang cukup lebar seperti : pintu, jendela harus di pasang balok lintel. Dalam desain bangunan ini balok lintel di satukan dengan kayu kusen atas.

• Atap, kuda – kuda menggunakan material kayu dengan atap menggunakan seng. Metode sambungan yang di pergunakan sangat sederhana, hal ini untuk memudahkan masyarakat dalam mencontoh. Untuk memperkuat hubungan antara batang dan menjaga stabilitasnya, maka hubungan antara batang membentuk segitiga. Hubungan antara kuda – kuda yang satu dengan kuda – kuda lainnya menggunakan batang pengaku dan batang pengaku di badan bangunan yang biasa di sebut dengan batang lintel

Beberapa aspek yang perlu di perhatikan adalah sambungan antar batang horizontal jangan terletak pada titik buhul, hal ini untuk menghindari terjadinya lendutan, harus di pahami antara sambungan tarik dan sambungan tekan.

Plafon pada overstek menggunakan kisi – kisi ukuran 2/3, hal ini di maksudkan untuk memberikan sirkulasi udara yang lebih baik, mengingat atap yang di pergunakan adalah seng yang cukup panas.